04 August 2008

Mourning the loss…




The last time my fingers clicking the keyboard to write an entry, I was so happy with all the new life surround me, even the news about the ‘earth quake’ panda in Sichuan giving birth to twins delighted me (as if I’m there..pur-leez), and now, after such a long break from writing, I can’t believe that this time, when I finally have the urge to write, the theme will be about DEATH. Oh, yes. The very thing that’s definitely sure, the one thing that most of humans scared of, and the one thing that we always forgot about.

This gloomy cloudy Friday morning (25/07/08), the reality of death spits right to my face. I’ve experience a loss of a wonderful soul dear to me and my heart. And I cried over it (the dead of Oren our dear kitten run over by a car). After several minutes, the harshness of the reality comes back to me. What’s the used of crying over spilt milk? We should all learn the lesson by now:

  1. Dengan melihat, mendengar dan merasai kematian di sekeliling kita, adakah hati kita rasa tersentuh dengannya? Kalau ya, apa sebenarnya yang patut kita rasa? Setakat rasa sedih kerana kehilangan atau rasa takut memikirkan giliran kita pula selepas ini?
  2. Cukupkah ‘bekalan’ yang akan kita bawa untuk ke dunia yang kekal abadi nanti? Adakah cara kita hidup di dunia yang fana ini dapat membantu melepaskan diri kita dari azab neraka? Nauzubillahiminzallik.
  3. Cukupkah ‘bekalan’ yang bakal anda tinggalkan untuk mereka yang masih hidup? Bukan bekalan harta yang saya maksudkan di sini, tapi bekalan hati. Memang benar cahaya hidayah itu Allah yang beri, tapi itu tidak bermakna kita tidak patut berusaha untuk mendapatkannya- untuk kita dan juga orang-orang di sekeliling kita. Apalah erti hidup pada menerima? Biarlah hidup kita bererti dengan memberi.

Di kala ini, saya teringat sepotong ayat dari surah at-Taubah [9:24]:
‘ katakanlah, jika bapa-bapamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.’

I hope, while we are busy living our life, please don’t forget that at the same time; we are also ‘busy’ dying. Do you already prepared for it?

…….

Ps: melihat Memeh (ibu kucing) setia menunggu di sebelah mayat Oren dan Comel yang tertidur di sebelahnya, hati saya rasa seperti ditoreh-toreh. Teringat kepada hari-hari gembira ketika Oren dan Comel selalu tidur bersebelahan, dengan pelbagai aksi gaya bebas.. hanya gambar yang tinggal jadi kenangan T_T. kami menunggu Dos pulang dari sekolah,kemudian baru kebumikan Oren. (takut Dos tak percaya pula kucingnya dah tiada).

Well, one thing for sure, that’s human for you: we learn the value of something when we loss it. Pity isn’t it?

2 more new members!!

A hearty welcome to ‘Mr. Koh’ and another unborn child in Si Putih’s womb. =D Today, Dos and I make a breakthrough discoveries that surely makes abah’s pocket thinner than ever. Huhu..

Firstly, I’ve found out that Putih is actually a female, along with Oren and Comel, and the most shocking part is Putih is pregnant!! Talk about receiving so much info in one gulp. I don’t know how my family can be mistaken about their gender where there’s obviously no testis down there. Maybe my beloved family in denial I guess, especially abah. Hehe. Putih and Memeh are actually ‘kena buang’ by some irresponsible person out there into our home area, and so abah and mak took pity on them and starts giving them food and water to drink. In the mean time, Memeh got pregnant, deliver 2 healthy cats which later end up being the-most-cherished-pet in the house by Dos and Zati. And Putih too. Blame all the lame name they get to Dos and Zati. Hold them responsible for it. Hehe.

Between Memeh and Putih, I really can’t choose one above the other. While Memeh is so choosy about her food, we all like her attitude towards her two kids. Seing them, I wonder how human being can ‘toss away’ their own flesh and blood to some dirty old dustbin, in some public toilet or even sell their babies away. Even animal love their own kin… Si Putih never been a food picker, and I can say that she’s the most graceful one among the four. She usually avoided the fight with Memeh if she can and if Memeh is not around, she still helps to look after Oren and Comel. She really is like an aunt to both Oren and Comel. Perhaps she’s just practicing for her own upcoming motherhood I guess. Only God knows why she act that way.

Secondly, somehow Dos rescued a fresh-born mice after her mother was eaten by Memeh. The poor thing, so small like the size of 1 cent coin, with no fur and eyes still not open. It (for I cant tell what’s gender is it) does look gross to me, but I guess we don’t have the nerve to kill it, well not directly of course. (me, Dos and Zati). Abah and mak insisted on just giving it to the cats since we cannot possibly feed it since its mom died away already. It’s only a matter of time for it to die (hopefully peacefully and painlessly), but so far we manage to keep it away from harmful cats in a box filled with tear newspapers to keep it warm. For all the time that it has, I decided to name it Mr. Koh. (don’t ask me why I named it Mr Koh though I can promise you there’s a really good story behind it. Hehe ^-^). I’m at my loss end, still figuring out how to keep it alive, and not making us a fool out of it of course. (After all, this is not Remy, the rat that can cook delicious human food!!)


And so, here I am. Writing for the unborn child of Putih and the newborn mice Mr. Koh, wishing them both well, hoping for the best for both of them and giving them a small token of my appreciation for being able to know them, even for a short while of time, for through them, I was once again reminded about the true ‘humanity’. Irony is it? Well, I let you decide. If only all of us have time to reflect back on what we’ve done and what we’ve become…

bila dalam hati ada cinta...

Sebut saja ungkapan ini, saya pasti pelbagai jenis reaksi akan keluar. Mungkin ada yang terkejut (demamkah cik baiz ni?), mungkin ada juga yang tersenyum (akhirnya… ), dan saya rasa mungkin ada juga yang tak sabar-sabar nak tahu ‘kisah sensasi’ saya (dengan siapa,bila dan bagaimana?)…


Alkisahnya, cerita kali ini bukan tentang saya dan siapa juakah lelaki itu (jangan rasa kecewa pula ya.. hehe), tapi ini kisah saya dengan keluarga (8 orang), kucing 4 ekor, dan sebuah filem Kantonis, kerana pada saya cinta itu universal dan ia sesuatu yang subjektif. Bak sepotong ayat dalam cerita A Walk to Remember: love is like the wind, you can’t see it, you can’t touch it but you can feel it.


Filem Kantonis yang saya tengok tu tajuknya It Has to Be You: lihat pada tajuknya saja dah boleh bayang ceritanya macam mana, typical romantic comedy. Tapi apa yang saya cuba stresskan tentang filem ni bukan tentang kisah percintaan hero dan heroinnya tapi tentang restoran tempat mereka berdua bekerja. Tempatnya nampak biasa saja dari luar, hiasannya pun simple saja, but it’s warm with love. Hiasan dindingnya penuh dengan gambar-gambar yang menunjukkan perasaan bahagia mereka yang pernah berada di dalam ruang lingkup restoran itu dan juga detik gembira para pekerjanya di luar tempat kerja mereka. Beautiful pictures with a thousand words. Ia buat saya rasa tak sabar nak membeli kamera, to start back my own private collections. (selepas saya hilang video cam saya di Prague 2 tahun lepas, saya jarang tangkap gambar lagi..T_T.)


Kisah saya dan keluarga pula (6 orang yang lain termasuk 2 budak yang memang dijaga oleh mak): setelah sekian lama, saya memang bersyukur sangat-sangat,hati saya ini masih ‘hidup’ (buat masa ini). Hidup dari erti kata menginsafi, menyedari, menghayati dan menghargai perasaan betapa bahagianya dan bertuahnya saya membesar dalam keluarga ini. A small family with nothing much to tell but gladly, I’m proud to say that we have each other. And 4 cats too.



  1. waktu saya berbincang dengan Wan (abang saya) tentang nak beli kamera baru, bersungguh-sungguh dia nasihatkan saya cari kamera yang tahan lasak dan waterproof, katanya perlu cari yang betul-betul boleh bertahan dengan saya yang ganas ni (memang saya tak panjang jodoh dengan barangan elektronik dari handset, dvd player, external hard disk hinggalah ke laptop). Komen pedas dan bersahajanya tu membuat saya rasa terharu pula. (There’s someone who will continue to look out for me despite of what I’ve done and somehow he makes me believe that there definitely will be someone out there who is cut out to be my long-life partner, insyaAllah).
  2. Waktu Awis (si Bulat yang sudah berusia 4 tahun dan marah orang lain memanggilnya bulat) balik ke rumahnya sendiri, bila ibunya tanya siapa ada di rumah mak, dia akan jawab akak Juwa. Bila tanya apa akak Juwa buat kat rumah, dia jawab tido. Hehe. Kantoi. Tahun ni saya balik, buat pertama kalinya, Awis tak terkeliru antara saya dan Ayu. Rajin pula bertegur sapa dengan saya dan tak segan-segan lagi dengan saya kalau saya yang mandikannya. Seronok juga melihat Awis sampai merajuk-rajuk mempertahankan yang mak adalah maknya, marah betul kalau orang lain datang manja-manja dengan mak depannya (kami semua saja suka mengusik Awis).
  3. Bila Ayu balik sekejap dari asramanya, walaupun sebenarnya cuma tambah seorang sahaja, tapi entah kenapa rumah jadi macam tambah 10 orang pula. Mungkin kerana akhirnya semua penghuni rumah ni dah balik agaknya.. =). Melihat mak beria-ia menukarkan cadar katil, mencari sepit rambut Ayu, buatkan bubur nasi untuk Dos waktu dia demam, saya sedar kasih sayang mak memang tulus ikhlas dan tidak berbelah-bagi untuk kesemua anaknya. (dulu saya pernah jealous rasa mak lebihkan Wan.. hehe.)
  4. Kadang-kala abah mengomel kata walaupun anaknya cuma 5, tapi belanja dapur mencecah sampai RM100> seminggu, setiap kali beli barang orang mesti tanya nak buat kendurikah? Walaupun begitu, bising-bising abah, bila minta beli makanan-makanan lain yang sepatutnya tak perlu beli pun, abah beli juga akhirnya… petang tadi, nak puji mak yang rajin memasak dan buat kuih (patutlah saya ni suka makan.. hehe =P), abah kata kalau ada 10 mak di rumah, abislah kami semua… jadi super gemuk agaknya.. takat sekarang ni pun, dah ‘sihat’ juga kami ni.. hehe.
  5. di rumah kami ada 4 ekor kucing: Oren, Comel, Memeh (ibu kepada oren dan comel) dan si Putih (lebih kurang sama umur dengan Memeh). (nama macam dalam buku cerita kanak-kanak kan?). Mereka ber4 ni cuma masuk rumah waktu untuk makan dan bermain-main, dan kadang-kala tidur. Saya suka tengok si ibu, setiap kali bagi ikan padanya, tak kisah sikit macam mana pun, dia mesti akan simpan separuh untuk anak-anaknya tu. Memeh dan Putih selalu bergaduh, tapi si Putih tak pernah pula nak mengacau anak-anak Memeh tu. Boleh aje duduk makan sekali. Walaupun saya yang baru balik ni tak pernah pula nak manjakan si Putih atau usap dia lebih-lebih, tak tahu kenapa si Putih tu manja pula dengan saya, selalu datang tidur siang di sebelah saya. Pagi tadi, bangun-bangun dia dah ada kat tepi muka, tah macam mana dia masuk ke dalam kelambu tak tahulah. Untuk orang macam saya yang hanya pernah bela ikan dalam akuarium sahaja, rasa terharu betul bila ada binatang lain nak manja-manja dengan saya walaupun saya sebenarnya tak reti sangat nak belai-belai mereka ni. (sebelum ni, abah memang tak bagi bela binatang, kebelakangan ni mungkin abah pun dah tua agaknya, hati pun dah lembut, tak larat nak berkeras lagi dengan si Dos dan Zati).


Semua ni antara pengalaman berharga buat saya: yang insyaAllah akan saya simpan kemas dalam ingatan ^_^.



Baru-baru ni saya ada baca satu artikel ni, boleh digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari terutamanya dalam keluarga dan rumah tangga - 5 language of love for colleagues. Show them you care.
(by Gary Chapman), katanya:

  1. People need constant reminders of the good work that they’ve done. If what they do is taken for granted, eventually they’ll lose their self esteem and their confidence level starts to wither. >>>>> So, guys, if you love your mum’s cooking, or you find that your sister’s messy drawing is unique and pretty, what you’re waiting for? Tell them so!!
  2. Quality time is another important aspect of building effective relationships, employees who do not have emotional attachment to the company; they will have little desire to contribute effectively to it. (so, bila dah ada anak-anak sendiri nanti, jangan sibuk nak cukupkan duit untuk mereka berbelanja sahaja, perlu luangkan masa berkualiti untuk keluarga tak kisahlah anda sesibuk mana pun…)
  3. Giving thoughtful gifts to show that you appreciate them in your life. (biar kecil dan murah asalkan ianya datang dari hati).
  4. People love someone doing something for them. It gives them satisfaction and appreciation, especially in time of need. Remember, act of service come in many shape and sizes. (contohnya tolong cuci pinggan ke, urutkan badan ke, susun kasut elok-elok dalam almari kasut ker…)
  5. Touch of affections: these will give them higher self-esteem, motivation to move forward and it can also show that you are concern about them or support them. (Nice cool way huh? But you need to find the right ‘degree’ of touch appropriate for them yourself. Be extra careful in experimenting k? )


Tatkala saya menulis entry ini, saya terfikir juga satu perkara: memanglah bagus kita dapat jumpa ‘nilai cinta’ manusia (dan binatang juga dalam kes saya ni), tapi alangkah bagusnya, jika kita turut sedar dan menghargai nilai kasih dan sayangnya Allah yang Esa pada kita para hamba-Nya ni. Buatlah apa jua perkara, selagi nyawa masih belum di hujung tanduk, pintu taubat-Nya masih akan terbuka luas untuk kita. Janganlah kerana mengejar kasih sementara di dunia, kita kehilangan kasih abadi. Sama-samalah kita renungkan…